MENDUNG SORE

Sunday, December 4, 2016

Pengantin Bergaun Ironis

Ini adalah cerita seorang pengantin. Pengantin yang harus fitting gaun nya satu minggu sebelum perkawinan. Pengantin yang wajib mengadakan resepsi pernikahan demi memenuhi ekspektasi pernikahan budaya ketimuran, budaya dimana dia berasal. 

Pengantin ini berbeda dengan pengantin lainnya. Badannya tidak tinggi semampai. Tapi otaknya pandai. Kulitnya tidak seputih salju. Tapi prestasi nya selalu maju.  

Sayangnya, orang-orang di sekitarnya tidak terlalu peduli dengan prestasi dan rencana hidup nya yang matang. 

Pengantin sebenarnya sangat berat hati untuk fitting baju. Terlebih lagi malas untuk balik ke negara asalnya. Karena dia tahu, keluarga dan teman-teman nya lebih mementingkan kecantikan fisik nya lebih dari apapun. 

Orang di sekitarnya tidak peduli tentang cerita perjuangan dan kekhawatiran nya selama menjadi perantau. Mereka lebih tertarik mendengar resep melangsingkan badan yang instan dan resep punya momongan yang cepat. 

Akhirnya siang ini pengantin menabahkan diri untuk fitting baju ditemani segelintir keluarga inti nya. 

Sapaan pertama dari asisten bridal untuk sang pengantin adalah, “Wah gendutan ya?”

Sang pengantin masih berusaha untuk sabar. Karena banyak yang bilang ke pengantin bahwa komentar itu NORMAL di Indonesia. 

Tidak lama, komentar di dalam dan luar ruang ganti semakin seru. Termasuk komentar, “Wah kulitnya iteman yah? Gimana nih mau jadi pengantin kok begini?

Pengantin mulai geram.

Saat ruang ganti dibuka, semua orang diluar cekikikan. Cekikikan karena gaun yang pengantin pakai tidak muat, tidak bisa dikancing.

Yang lebih sedih, anggota keluarga nya juga ikut cekikikan. Mungkin pemandangan yang dilihat mereka lucu, seperti melihat kue lepet yang diikat tali terlalu ketat.

Kesabaran pengantin pun habis dan akhirnya terucaplah kalimat, "Jadi saya mesti ngapain? Batal nikah gitu? Gak sopan yah dari tadi mulutnya."

Akhirnya mereka yang otak nya ada di pantat seperti udang pun diam. 

Pengantin itu tentu saja... saya. 

Banyak reaksi yang mungkin akan saya dapat dari tulisan ini atau respon saya yang mungkin dianggap berlebihan dan tidak sopan. 

Kita mungkin bisa berdebat seharian untuk membuktikan bahwa apa yang saya lakukan dan percaya itu benar. Tapi saya rasa itu tidak ada gunanya. 

Tujuan saya untuk menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa hebatnya saya bisa bentak orang. Tapi saya berharap wanita diluar sana bisa speak up untuk dirinya sendiri saat kalian cuma dihargai sebatas penampilan dan bukan otak atau kepribadian kalian. 

Kalau saya hanya dihargai lewat tubuh saya, apa bedanya saya dengan pelacur?

Dan jika kalian tidak bisa menerima teman, pacar, saudara atau anak kalian apa adanya, apa bedanya kalian dengan binatang?

Mungkin anjing saja tidak pernah berkomentar ke pemiliknya bahwa pemiliknya gendut, jelek, cacat atau lain sebagainya.

Tersinggung?

Ya, saya rasa itu wajar. Karena itu reaksi natural manusia yang sulit menelisik lebih dalam ke dirinya. 

Bahwa sebenarnya ada rasa muak saat mereka melihat diri mereka di depan kaca.

Sayangnya, beberapa orang memilih untuk tidak dewasa dan mengajak orang lain untuk bergabung dengan mereka. Mungkin manifestasi nya adalah mengomentari hidup orang agar hidup mereka jauh terlihat lebih "mendingan".  

Saya sudah menerima diri saya apa adanya. Tapi sayangnya tidak untuk beberapa orang di sekitar saya. 

Yang membuat saya menangis dan marah adalah kenapa hal ini dianggap menjadi normal? Kenapa yang dikomentari malah tidak berhak untuk marah dan speak up?

Banyak yang menyarankan saya bahwa saya tidak perlu mendengar omongan orang. 

Tapi menurut saya, diam dan pengecut itu sangat berbeda tipis. 

Betul-betul ada yang salah sama otak dan mental kita yang merasa berhak untuk mengomentari hidup orang semena-mena. 

Saya tidak khawatir postingan ini akhirnya bakal berujung ke siapa dan kemana. Saya lebih khawatir kalau saya harus menjadi penjilat yang berusaha membuat semua pembaca saya senang tapi tidak pernah berpikir kritis. 

Mungkin cuma ada satu alasan maaf yang bisa saya ucapkan. 

Maaf saya sudah menentang ekspektasi ideal pengantin pada umumnya. Saya seharusnya menutupi lemak di perut dengan tas besar bermerk LV. 

Tapi yang ada saya malah upload foto tubuh saya yang bergelambir dengan beha dan celana dalam. 

Alasan saya meng-upload foto ini karena saya merasa lebih seperti ditelanjangi dan dipermalukan saat saya memakai gaun pengantin saya. 

Ironis.