MENDUNG SORE

Wednesday, May 10, 2017

Ahok dan Orang-Orang Indonesia yang Tidak "Berpendidikan"

"Ahok baru divonis penjara 2 tahun. Parah, kesian banget."

Itu chat yg gw dapet di WhatsApp pagi ini pas gw baru ngebuka mata. Yg terlintas di otak gw saat denger berita itu:

1. Kesian banget si Ahok
2. Well, it's Indo anyway. What do you expect? And gw gak di Indo, so whatever. 

Tapi semakin sore, semakin banyak temen2 gw yg share tentang feeling mereka mengenai kasus Ahok dipenjara, entah itu lewat FB, Instagram or Path. Feeling yg mereka share semuanya campur aduk... dari yg marah, kecewa, hopeless, hopeful dan encouraging sambil share beberapa ayat Alkitab.

Saat itu gw sadar... Wow, gw masih bisa merasa secuek ini karena gw udah lama ninggalin Indo. Status gw selama 7 tahun belakangan ini hanya jadi "turis" di Jakarta. Ibarat kata gw sama Jakarta hubungannya kayak open-relationship. Banyak banget yg gw benci dari Jakarta tapi banyak juga hal yg bikin gw nyaman disana. 

Akhirnya pikiran ini pun tiba2 lewat di otak gw, "Gimana ya kalo sampe Tuhan one day suruh gw berbakti dan balik ke Indo, lebih tepatnya ke Jakarta?" 

Dan dari situ gw bener2 feel your pain, my friends. 

Gw decided untuk gak cek social media for now karena it's too painful for me. The reality is so real. Ada beberapa teman dan saudara gw yg bener2 sakit hati, nangis, kecewa, dan feel hopeless sama keadaan di Indonesia, khususnya Jakarta. 

Gw ngebayangin kalo posisi gw ada di posisi mereka sekarang di Indonesia, dimana orang yg bersih dan korup aja tetep bisa dipenjara dengan kasus penistaan agama. 

Gw gak tau mau kontribusi apa untuk Jakarta selain kasih tulisan gw melalui postingan ini. Ini hal terbaik, terjujur dan gak muluk2 yg bisa gw berikan buat HTS-an gw, Jakarta. 

Postingan ini punya harapan. Berharap untuk bisa ngegampar dan ngingetin gw kalo gw lagi lupa diri sama si ibukota selama gw ada diluar negeri. Gw berharap ini juga bisa menebar benih2 harapan buat orang2 di Indo yg feel hopeless. 

First of all, kalian perlu tau bahwa gw bukan orang yg punya nasionalisme tinggi. Patriotisme gw pun biasa2 aja. Semua temen2 gw diluar negeri tau kalo selama gw di Perth, gw selalu menghindari komunitas yg dipenuhi sama orang2 Indo yg menurut gw "Indo banget"- dalam artian: masih suka ngaret, gagal paham sama emansipasi wanita, kebanyakan basa basi, budaya senioritas yg terlalu kaku, dan lain sebagainya. 

Berikutnya, walaupun gw lulusan anak politik tapi kenyataanya adalah gw masih sering mengeluarkan becandaan rasis tentang kalangan pribumi kalo lagi hangout sama temen2 gw yg mayoritas beretnis Tionghua. 

Dan kalo gw ditanya apakah gw kepikiran untuk balik ke Indonesia. Jawabannya tentu saja tidak. Kecuali kalo gw kepepet dan harus banget untuk balik. 

Tapi saat gw ngeliat Ahok mengobrak-abrik busuknya politik di ibukota, harapan gw sama Indonesia, setidaknya Jakarta, lumayan naik. Dan bukti nyata yg gw lihat setiap gw balik jadi "turis" di Jakarta bener2 bikin gw respect dan salut sama si ibukota. Gw sempat berpikir, yah mungkin kalo sampe tinggal di Jakarta gak bakalan jelek2 amat sih kalo ada Ahok. 

Tapi, tanggal 9 Mei 2017 secara tragis merubah harapan banyak orang tentang Indonesia. Ahok divonis penjara 2 tahun karena penistaan agama. 

Kita gak perlu bahas apa beneran keluar kata2 yg menista agama dari mulut Ahok. Tapi yg kita tau pasti, kasus penistaan agama ini dipolitisasi sedemikian rupa dan makin dibikin jadi sensasi selama Pilkada 2017 berlangsung. 

Yg pasti hashtag tentang kasus Ahok ini bener2 rame sama #RIPjustice #RIPIndonesia #bebaskanAhok #gwcumakomplen #gakbisangapa2in, dan silahkan tambahin sendiri. 

Gw pun salah satu orang yg share berita injustice tentang Ahok ini ke sosmed supaya dunia tau betapa backward nya negara Indonesia. Gw pun berpikir untuk menulis hashtag #RIPjustice. Tapi saat gw mau nulis itu, gw berpikir... apa betul keadilan di Indonesia benar2 mati? Apa karena Ahok dipenjara, nyawa Indonesia langsung mati? Apa se-hopeless itu kah gw berpikir tentang Indonesia?

Tapi gw percaya, justice di Indonesia gak mati cuma karena Ahok dipenjara. 

Lebih tepatnya... justice di Indonesia adalah sekarat. 

Justice di Indonesia semakin sekarat karena orang2 macam gw ini yg cuma bisa berkoar2 di sosmed tapi juga kalo disuruh berbakti untuk balik ke Indo gak akan mau ambil resiko. 

Justice di Indonesia semakin sekarat karena orang2 macam gw ini yg cuma bisa ngatain "kaum" di seberang sana dan menjustifikasi alasan gw untuk semakin rasis sama kaum yg fanatik agama dan gak bisa berpikir kritis. 

Justice di Indonesia semakin sekarat karena orang2 macam gw ini yg ngakunya paham politik dan sejarah, tapi gak bisa mengaplikasikan pengetahuan gw dengan benar di dunia nyata. 

Justice di Indonesia akan semakin sekarat kalau orang-orang baik yg ngakunya "berpendidikan" memilih untuk diam, pasrah dan nerima kalo justice di Indonesia emang udah gak bisa diselamatkan. 

Banyak dari kita yg sering ngomong, "Iya nih di Indo masih banyak orang tolol yg gak berpendidikan. Makanya milihnya yg penting pribumi dan Muslim. Gak peduli deh bisa kerja apa gak, yg penting jangan cina dan non-Muslim."

Saat kita bilang seseorang gak "berpendidikan" pastinya kita ngeliat itu dari sudut pandang kita, misalnya orang2 yg gak sekolah tinggi sampe sarjana or master, tinggal di kampung doang dan gak punya kerjaan kantoran yg dapet duit banyak. 

Tapi menurut gw, mengkotak2an orang berpendidikan atau tidak itu gak seluruhnya menjadi penjelasan kenapa Ahok divonis penjara. 

Mungkin penjelasan yg lebih tepat adalah kita semua, seluruh warga negara Indonesia, masih belom bisa belajar dari sejarah. Karena para petinggi bangsa kita pun masih ngajarin sejarah buatan orde lama. Sejarah yg cuma bisa ngajarin tentang kebencian dan gak menjawab semua sejarah-sejarah kelam di Indonesia, contohnya G-30S-PKI atau Kerusuhan Mei 1998. 

Dan even ada orang2 yg berusaha untuk ngebahas sejarah-sejarah kelam Indonesia melalui pengadilan, mereka langsung di shut down dengan pernyataan, "Wah ini pasti mau memojokan pihak pribumi. Kenapa sih dibahas lagi? Kita kan udah jadi lebih baik karena kita sudah di era demokrasi."


“Dunia tidak akan pernah berubah kecuali dengan sejarah. Berbagai pergolakan yang kita alami sekarang dan usaha yang kita tempuh untuk lepas dari kekelaman masa lalu, tidak akan pernah tuntas tanpa melihat akar-akar dan sebab-sebab permasalahannya dalam rekaman sejarah.” - Yusri Abdul Ghani Abdullah


Bukan cuma setuju aja sama quote di atas, tapi menurut gw yg paling penting adalah gimana kita berkontribusi buat negara lewat hal praktis dan simple di komunitas kita sendiri. 

Ya memang kita butuh sosok yg kasih kita inspirasi dan courage seperti Ahok. Tapi kita juga gak bisa cuma serahin semuanya ke dalam tangan satu "orang baik dan bersih" aja. 

Kita gak perlu muluk2 mikir mau jadi politisi atau demo ke jalanan setiap hari. Karena gak semua orang bisa punya keberanian dan ketabahan seperti para politisi dan pendemo. Mungkin ada baiknya kalo kita mikir dari kita sendiri. 

Kalo kita punya anak dan anak kita pacaran sama orang yg beda keyakinan atau beda ras, apa yg bakal kita lakuin jadi orang tua? Apa kita larang dengan alasan yg realistis atau karena alasan "Kita kan Cina dan Kristen. Harus cari yg sama dong"?

Kalo kita berteman dan semua temen kita kebanyakan dari etnis Tionghua, ada baiknya kita tanya ke diri kita - apakah kita punya prejudice dan unconscious bias tentang kaum dan keyakinan yg berbeda sama kita? Apa kita mau challenge diri kita buat coba berteman sama mereka yg beda sama kita?

Gimana kita memperlakukan orang pribumi atau pembantu yg kerja bareng kita? Apa kita memperlakukan mereka seenak jidat (karena toh mereka juga rasis, "nge-cina2-in" kita)?

Gw rasa pertanyaan itu semua akan selalu ada di otak gw karena gw masih cari jawabannya. Dan gw pun masih harus terus intropeksi diri sebagai orang yg ngakunya "berpendidikan" di luar negeri. 

Ahok mungkin menjadi pembuka jalan orang2 bersih dan orang2 dari minoritas untuk berani berkecimpung di dunia politik. Ahok boleh dipenjara, tapi pekerjaannya akan terus lanjut ke kita semua - untuk ngebuktiin that one day Indonesia bukan cuma menghargai orang cuma karena ras dan keyakinan, tapi memang karena orang itu bisa kerja dan kontribusi untuk negara. 

Tentunya itu dimulai dari kita. 

Gampang memang untuk ngomong kalo gw gak tinggal di Jakarta untuk ngadepin segala kebodohan dan kekejian ibukota sambil diterpa banjir dan macet. 

Tapi setidaknya gw yg berada diluar Jakarta ini berharap untuk bisa membagikan separuh otak jernih gw ke kalian yg lagi muak dan hopeless sama nasib ibukota.  

Dan semoga postingan ini juga mengingatkan gw untuk bersabarrrrrrr sama Jakarta dan tetap berkontribusi buat Jakarta. 










Thursday, February 23, 2017

"BUT... you have vagina!"

*** The purpose of this post is NOT to:
- underestimate the role of parenthood
- attack any beliefs or perspectives
- make people feel shitty about having kids or working as a full-time mum and dad.

The question of "why I don't want to have kids" has been a huge issue in my life. And I never really speak up about this. For me, writing this post is the only way I know best to express my feeling and opinion with a touch of humour and satire ;) 

I write this post to help me laugh and chill about the issue that often irritates me most. For those who are in the same boat like me, I hope I can bring a smile on your face. 

You're NOT alone. ENJOY!

Yesterday I shared this comic on my Facebook and I didn't expect to get any positive responses. Because usually I got a "weird look" and "interesting" comments when I say I don't want to have kids. Here's the collection of bizarre comments that I've got in my entire life:

-  "You don't wanna have kids? Well you're still too young. You'll change your mind when you're a bit older."
- "But if you don't have kids, who's gonna take care of you when you're old?"
- "You've been westernised." (what kind of comment is this?! TROLOLOLOL)
- "Wow, that's selfish. Think about people who really want to have kids but they can't!"
- "But God says that in the bible: 'Be fruitful and multiply.' So you have to have kids!"
- "But having kids will change your life. Your life will be complete and happier."
- "If you don't wanna have kids, then what's the point of getting married?"

And the most epic comment goes to...

"BUT... you have vagina!" (saying it with a clueless and innocent face).


How I feel inside my fragile heart

I wish I could reply back to those comments that I heard from strangers, my parents, siblings, relatives and my close friends. But I chose not to reply because I didn't want to have an argument.

I don't see it useful to have an argument with people who are not ready yet to listen to another side of perspective. I don't think people are ready to hear the fact that having a kid is an option. And I don't think I have to justify my personal life, and convince everyone to agree with me.

There were many times I felt angry and upset when people judged me about this issue. But as I've tried to make peace with myself, I understand that everyone has a different motive and background. It's not wise for me to say that people who said those comments above are ignorant, uneducated, or narrow minded.

But the only thing that I can do for myself is to speak up, and be brave enough to show who I really am. I don't ask all of you to agree with me, but I need you to at least listen from another side of the story.

1. Aspiration 
How I see about having a kid is more like an aspiration in life. For some people their aspirations are maybe to become a millionaire, a president, or a movie director. And in my mind, this goes the same thing about having a kid.

Being a mother or father for me is a full-time job and I respect those who have kids. From seeing my siblings, relatives and parents, I understand how hard it is to raise a decent human being who can function well in society.

However, I don't see myself to become a mother. I don't see kids as my aspiration in life. I know what my aspiration and my true calling are, but unfortunately some people think that they know my life better than myself.

That's when people start to "fix" myself - there must be something wrong with me if I don't want to have kids. Doesn't every woman in this world want to have kids?

I'm telling you now that not every woman in this world wants to have kids. If you've never heard or met someone with this opinion before, then it is mostly because those who don't want to have kids are afraid to speak up or being judged as a "selfish evil bitch."

2. Life's Calling
Everyone has a different perspective when it comes to life's calling or purpose.

For me, I live my life through God's calling and I believe that there is a "season" for everything. And I believe that God allows me to embrace my passions and talents to live the life that is according to His plan.

I don't have the right to tell you what's wrong and right in terms of this issue. But I know one thing for sure, it's completely wrong for me to have kids just for the sake of fulfilling mainstream expectation of society, or just to make people around me "happy".

Maybe I change my mind in the future? Who knows? Even if I change my mind, I know that having a kid will be God's calling for me and it's gonna be the "season" of my life that I need to embrace.

Although I've spoken up about this issue, I know for sure that there will always be people who keep asking me, "So when are you gonna have kids?" I will give an answer that they want to hear and try to keep my cool. For example, I automatically reply my relatives with this answer, "Yeah we'll be making baby next month." (just to make them shut up).

If you experience this problem when people keep asking you the baby thing, you can try this answer:

"Yeah, after this I will have sex a lot everyday so I can have my baby soon."

Last year, I said that to my friends and they gave me a weird look, looked confused, and just left me straight away. That's so effective, isn't it? Now you're free from the baby question because people think you are too weird. Congrats. Mission accomplished.

Last comment from me...

I don't realise that this baby thing is mostly put pressure on women until a friend of mine shared his thought on my FB post:

"Neither my wife and I want kids (though we are always open if we change our minds in the future). When the conversation comes up with others as portrayed in this comic, they usually focus on my wife, even though this is a decision that involves both of us. In other words; it takes 2 to make a child, but the pressure from others is almost always on the woman, which I think is completely unfair. In those situations I try to interject and remind others that I also don't want kids and my opinion matters too to try and remove that pressure from being solely on her."

Thanks to all men who are being supportive and ready to speak up for their partners regarding this issue. The more I get older, the more I realise that it's hard to be a woman. Sometimes it's just too much expectation to become a "good responsible woman." In my case, the support and encouragement from my life partner really means a lot to me.

For all women out there who keep getting pressure from people around you, you know yourself better than anyone else. Be strong and keep believing in yourself. And you don't have to justify and explain your personal life to every single person who doesn't agree with you.

Sometimes... silence is golden. Deep in your heart, you know that you are fully worthy in spite of negative judgment from people around you.

"I'm completely happy not having children. I mean, everybody does not have to live in the same way. And as somebody said, 'Everybody with a womb doesn't have to have a child any more than everybody with vocal cords has to be an opera singer."Gloria Steinem

Sunday, February 5, 2017

Hi, I'm Albert's Wife.

SO... how's Madrid?

Yeah, that's the typical question that I get. It's been a month since I left Perth and I'm gonna answer that question through this post. 

I'm not gonna start with the recommendation of best place to go, to eat, etc because I'm not Lonely Planet :p Instead, I'm gonna start with the conversation that I had on the day I just arrived in Madrid:

MBA ladies A & B: Hey what's your name?
Me: My name is Yunita.
MBA ladies A & B: Hmm... sorry? 

(As usual the difficulty to pronounce my name is high. Maybe one day people could start making another name for me like Juanita, Veronica, Barbara, and so on)

Me: My name is Yu-ni-ta. 
MBA ladies A & B: ... (looked totally clueless and started changing the topic) Oh, so are you an MBA candidate as well in Madrid?
Me: No, I'm accompanying my husband. He's the one who's studying. 
MBA ladies A & B: Oh! Who's your husband?
Me: Albert. 
MBA ladies A & B: Oh, we can call you Albert's wife then! Ha-ha-ha (in a demeaning manner)
Me: ... (bitch, I'm about to slap your mouth with Jamon Iberico now)

And the conversation didn't last for long. For a few MBA ladies, my name is too hard to pronounce so it's easier to call me Albert's wife. But excuse me, ladies and gentlemen... I have name and coming here to accompany my husband doesn't lesser my value as a human. 

So... to answer the question, "How's Madrid?", I'm gonna tell you that in the last one month Madrid has taught me a lot about:

1. Self-esteem
Since that convo with the MBA ladies, my insecurity started to kick in. I started feeling shitty... "What if people think I'm useless because I'm ONLY the wife?" "What if people don't appreciate the job that I love as a dancing teacher and dancer?"

The first week in Madrid was the hardest because of language barrier and culture shock. There were a few days when I felt so so so shit that I didn't get up from my bed until late afternoon. Going outside to interact with people made me feel more stupid because I couldn't even understand simple phrase that people said. 

But through self-reflection with myself and Albert, and also positive words from friends... my conclusion is people always have their own values. Maybe for some, being a wife who accompanies the husband whom studying abroad is nothing. It's okay for people who have that perspective, but for me I see my position as something powerful. 

Not everyone has the opportunity to be together as a couple when they move to another country. Some must be separated for a while due to financial or visa difficulty. And to grow together as a couple in another country is a privilege for us. That's when we can learn, see and embrace our best and worst. 

And at the end of the day, what matters most is the support that you get from real people who really believe in you, and be ready to help you when you feel so low. Trying to impress people whom we think more educated or "higher" than us is the worst thing that we can do to ourselves.

2. Gender equality
This afternoon, Albert and I were having lunch with new friends while we started our discussion about gender equality. They're husband and wife, and in their case the husband comes to Madrid to accompany his wife who studies MBA. Like us, they faced similar issues and stereotypes about the role of woman, man, husband, and wife. 

One example that we talked about is when a man does housework, often people compliment him as "a good and sweet man." On the other hand, if a woman does housework, it's often underappreciated because that's what a woman "supposed" to do. 

Let me be clear... In my role, I'm the one who mostly does the housework - cooking, vacuuming, etc. But I've been doing it because I see my relationship as a teamwork. I know how tiring it is when you get home from a busy day, yet you still need to prepare your own food or cleaning up the house. 

And I'm sincerely happy to help my life partner as much as I can because I do it out of love. I don't do it because I'm a woman who is "supposed" to do housework and give him 10 kids. And Albert doesn't do much housework not because he's a MAN. I know he can't do it because he's busy studying and feel so tired by the time he gets home. 

A woman that Albert and I met during lunch today asked us, "So do you consider yourself as a feminist? And by that means you believe that man is equal to woman, and vice versa."

We said yes.

But don't get me wrong - we're not perfect. Albert and I still have our unconscious biases, but we're working on it as a team. And I hope that any couple out there can respect each other better because they see their partner as a human, and not based on gender.

So for people out there who are in the similar situation like what I've been through, please don't ever hate yourself because society tells you that:
- you "only" accompany your partner in another country
- you don't have any "real prestigious" job in an office, OR
- you're not an MBA/PhD student like your partner

What matters most is how you and your partner value and support each other. And please surround yourself with positive people :)

"Those who mind don't matter, and those who matter don't mind."

*** many thanks to Albert, Josh and Lolita for the inspiration behind this post :)




Sunday, December 4, 2016

Pengantin Bergaun Ironis

Ini adalah cerita seorang pengantin. Pengantin yang harus fitting gaun nya satu minggu sebelum perkawinan. Pengantin yang wajib mengadakan resepsi pernikahan demi memenuhi ekspektasi pernikahan budaya ketimuran, budaya dimana dia berasal. 

Pengantin ini berbeda dengan pengantin lainnya. Badannya tidak tinggi semampai. Tapi otaknya pandai. Kulitnya tidak seputih salju. Tapi prestasi nya selalu maju.  

Sayangnya, orang-orang di sekitarnya tidak terlalu peduli dengan prestasi dan rencana hidup nya yang matang. 

Pengantin sebenarnya sangat berat hati untuk fitting baju. Terlebih lagi malas untuk balik ke negara asalnya. Karena dia tahu, keluarga dan teman-teman nya lebih mementingkan kecantikan fisik nya lebih dari apapun. 

Orang di sekitarnya tidak peduli tentang cerita perjuangan dan kekhawatiran nya selama menjadi perantau. Mereka lebih tertarik mendengar resep melangsingkan badan yang instan dan resep punya momongan yang cepat. 

Akhirnya siang ini pengantin menabahkan diri untuk fitting baju ditemani segelintir keluarga inti nya. 

Sapaan pertama dari asisten bridal untuk sang pengantin adalah, “Wah gendutan ya?”

Sang pengantin masih berusaha untuk sabar. Karena banyak yang bilang ke pengantin bahwa komentar itu NORMAL di Indonesia. 

Tidak lama, komentar di dalam dan luar ruang ganti semakin seru. Termasuk komentar, “Wah kulitnya iteman yah? Gimana nih mau jadi pengantin kok begini?

Pengantin mulai geram.

Saat ruang ganti dibuka, semua orang diluar cekikikan. Cekikikan karena gaun yang pengantin pakai tidak muat, tidak bisa dikancing.

Yang lebih sedih, anggota keluarga nya juga ikut cekikikan. Mungkin pemandangan yang dilihat mereka lucu, seperti melihat kue lepet yang diikat tali terlalu ketat.

Kesabaran pengantin pun habis dan akhirnya terucaplah kalimat, "Jadi saya mesti ngapain? Batal nikah gitu? Gak sopan yah dari tadi mulutnya."

Akhirnya mereka yang otak nya ada di pantat seperti udang pun diam. 

Pengantin itu tentu saja... saya. 

Banyak reaksi yang mungkin akan saya dapat dari tulisan ini atau respon saya yang mungkin dianggap berlebihan dan tidak sopan. 

Kita mungkin bisa berdebat seharian untuk membuktikan bahwa apa yang saya lakukan dan percaya itu benar. Tapi saya rasa itu tidak ada gunanya. 

Tujuan saya untuk menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa hebatnya saya bisa bentak orang. Tapi saya berharap wanita diluar sana bisa speak up untuk dirinya sendiri saat kalian cuma dihargai sebatas penampilan dan bukan otak atau kepribadian kalian. 

Kalau saya hanya dihargai lewat tubuh saya, apa bedanya saya dengan pelacur?

Dan jika kalian tidak bisa menerima teman, pacar, saudara atau anak kalian apa adanya, apa bedanya kalian dengan binatang?

Mungkin anjing saja tidak pernah berkomentar ke pemiliknya bahwa pemiliknya gendut, jelek, cacat atau lain sebagainya.

Tersinggung?

Ya, saya rasa itu wajar. Karena itu reaksi natural manusia yang sulit menelisik lebih dalam ke dirinya. 

Bahwa sebenarnya ada rasa muak saat mereka melihat diri mereka di depan kaca.

Sayangnya, beberapa orang memilih untuk tidak dewasa dan mengajak orang lain untuk bergabung dengan mereka. Mungkin manifestasi nya adalah mengomentari hidup orang agar hidup mereka jauh terlihat lebih "mendingan".  

Saya sudah menerima diri saya apa adanya. Tapi sayangnya tidak untuk beberapa orang di sekitar saya. 

Yang membuat saya menangis dan marah adalah kenapa hal ini dianggap menjadi normal? Kenapa yang dikomentari malah tidak berhak untuk marah dan speak up?

Banyak yang menyarankan saya bahwa saya tidak perlu mendengar omongan orang. 

Tapi menurut saya, diam dan pengecut itu sangat berbeda tipis. 

Betul-betul ada yang salah sama otak dan mental kita yang merasa berhak untuk mengomentari hidup orang semena-mena. 

Saya tidak khawatir postingan ini akhirnya bakal berujung ke siapa dan kemana. Saya lebih khawatir kalau saya harus menjadi penjilat yang berusaha membuat semua pembaca saya senang tapi tidak pernah berpikir kritis. 

Mungkin cuma ada satu alasan maaf yang bisa saya ucapkan. 

Maaf saya sudah menentang ekspektasi ideal pengantin pada umumnya. Saya seharusnya menutupi lemak di perut dengan tas besar bermerk LV. 

Tapi yang ada saya malah upload foto tubuh saya yang bergelambir dengan beha dan celana dalam. 

Alasan saya meng-upload foto ini karena saya merasa lebih seperti ditelanjangi dan dipermalukan saat saya memakai gaun pengantin saya. 

Ironis. 


Saturday, November 19, 2016

Komentar Tidak Etis

WARNING: 
Postingan berikut ini mengandung beberapa kalimat yang cukup sensitif dan vulgar. Jadi kalo kalian sulit untuk menelaah makna lebih dibalik postingan vulgar ini, mohon cari postingan yang lebih menghibur. 

Tanggal 29 November 2016... hari dimana gw akan menginjakkan kaki ke tanah air Indonesah untuk kesekian kali nya. Kali ini untuk urusan yang genting, yaitu untuk urusin resepsi pernikahan saya dan si doi pada tanggal 10 Desember. Kalo kalian gak dapet undangan nya, itu artinya kita gak deket-deket amat atau kita selama ini berteman tapi hanya basa basi. Jadi mohon dipahami.

Ngomongin soal resepsi nikah, pada umumnya pasti sang calon pengantin bakal merawat tubuh, ngurusin badan, putihin kulit, operasi muka, pergi ke Mars, dll. Sayangnya yang terjadi sama gw adalah kebalikannya. Gw menggendut, menghitam dan gak ada biaya buat operasi muka.

Bridesmaids gw juga menarik. Bentuk tubuh bridesmaids gw ada yang dari skala imut sampe bombastis. Pastinya beda banget sama tipikal bridesmaids imut macam girl band Korea yang sering kita lihat di Instagram. Jangan lupa foto nya dibubuhi dengan ratusan hashtags #girl #pretty #famous #rich #BFFinheavenandhell

Karena badan bridesmaids gw yang beragam, alhasil kita lumayan repot buat cari baju bridesmaids. Salah satu bridesmaids gw sempet meragukan role nya karena perkara badan nya - "biasa" nya bridesmaids kan badannya imut, "biasa" nya kan pengantin cari bridesmaids yang putih dan langsing biar bagus pas di foto. Dan banyak banget hal yang selama ini mungkin kita anggep normal dan rasanya "aneh" kalo gak diikutin.

Banyak lagi hal "BIASA" yang lainnya di luar dari perkara nikah: "Biasanya umur 20an udah married kan? Punya mobil kan? Punya anak kan?"  Dan... silahkan tambahin pertanyaan dan asumsi tolol lainnya sesuai selera anda.

Untuk semua orang yang udah muak sama sentimen berikut, tenang... anda tidak sendirian. Jujur komentar yang dianggap "gak penting" ini sering banget dilontarkan banyak orang kepo yang kehabisan topik pembicaraan.

Komentar macam ini pun sering banget bikin gw jadi males balik Indo. Karena masih banyak orang yang cuma ngelihat cewek cuma dari bentuk fisik sama berapa banyak keturunan yang bisa dia hasilkan.

Gw udah terlalu sering lihat nyokap-nyokap yang males keluar rumah pasca lahiran karena komentar yang sering dilontarin ke para ibu dari orang-orang yang gak ada otak nya, "Kamu kok gendut banget ya?"  Seakan-akan dengan kasih komentar itu bikin yang nanya jadi makin cakep.

Orang-orang yang gak ada otak ini mungkin lupa kalo sang ibu mengandung seonggok manusia dan bukan mengandung seekor kucing.

Menurut gw perkara komentar gak etis macam ini bukan hal yang kecil. Gak semua orang bisa sembarangan tanya dan komentar hal personal tentang seseorang seenak jidat. Kalo misalnya semua orang bisa ngomong semaunya, gw bisa aja dong kasih komentar...

"Tante mukanya keriputan. Jarang dikasih "jatah" ya sama suami? Biasa seminggu nge-seks berapa kali sih?"

Terlalu kurang ajar ya?

Iya memang.

Dan menurut gw komentar kaya gitu sama aja kayak orang yang komentarin badan ibu-ibu yang baru ngelahirin, komentarin badan bridesmaids yang gak "imut", komentarin badan pengantin kurang ini dan kurang itu, interogasi orang kenapa belom punya anak, dan ratusan komentar kurang ajar lainnya.

Gw gak tau bakal denger komentar macam apa nanti nya menjelang resepsi. Bisa jadi bagus, bisa juga yang aneh bin ajaib.

Yang pasti kalo ada orang yang melontarkan pertanyaan umum seperti: "Kapan punya anak? Loh gendutan ya? Kok iteman?"  Gw sudah menyiapkan respon yang tidak akan pernah terlupakan, sekaligus bikin orang yang nanya belajar buat menyeimbangkan kecepatan otak dan lidah sebelum berbicara.

Untuk menutupi postingan berikut, gw cuma berharap postingan ini bikin kita semua mikir sebelum nanya atau kasih komentar ke orang lain. Gw gak bilang gw "perfectly" jaga mulut gw dan berhati suci seperti malaikat. Iya, gw judge orang. Gw kadang suka komentar gak pake otak. Tapi gw selalu usaha untuk intropeksi dan do better next time.

Untuk para pembaca yang sedang atau sering dilontarkan komentar-komentar yang tidak etis, tolong pakai situasi ini sebagai kesempatan buat jadi lebih kreatif dan berguna - kreatif dalam merespon lewat humor dan ironi, sekaligus berguna juga buat jadi pembelajaran untuk orang yang nanya.

Yang lebih penting, pakai kesempatan ini buat belajar nerima diri kita apa adanya.

Harga dirimu tidak bergantung dari orang-orang yang sulit menyeimbangkan kecepatan otak dan lidah mereka sebelum berbicara. 

Terakhir, berikut foto di bawah ini sebagai hadiah buat orang yang berkali-kali mikir gw hamil padahal gw cuma gendutan:


Hamil si lemak sejak 2010. Puas?








Saturday, October 29, 2016

Hati-Hati dengan Asumsi

Sesuai dengan janji yang sudah gw haturkan lewat Path, malam ini gw akan menceritakan perjuangan gw buat apply beasiswa LPDP. Apa itu LPDP? Silahkan gunakan skill komunikasi anda untuk bertanya pada mbah Google.

Mari kita mulai. 

Gw gak pernah kebayang buat apply beasiswa. Karena menurut gw beasiswa tuh susah banget dan itu hanya untuk rakyat jelata yang tidak mampu bersekolah. Tapi akhirnya gw memutuskan untuk apply beasiswa untuk pertama kalinya. Berikut alasannya:

1. Tingkat kecerdasan dan kegigihan belajar sudah meningkat 
2. Sekarang gw termasuk golongan rakyat jelata yang tak mampu bersekolah :') 

Gw tau beasiswa ini for the first time pas lagi berkunjung ke Albany bareng suami. Letaknya di selatan dengan bujur lintang 175,31 derajat. Yah intinya jauh dah dari Perth. 

Weekend itu lagi ada food and wine festival. Berhubung di kota itu hiburannya cuma makan, jadi kita dateng lah ke festival itu. Mungkin bacot gw lumayan gede yah sampe2 pas kita lagi antri wine tiba2 ada orang yang nepok bahu gw trus ngomong, "Ehh.... orang indo juga yah?!" 

Disitu lah gw berkenalan sama perantau dari Indo yang memutuskan untuk belajar ecotourism di Albany. Sebut saja namanya Putri Laut (PL). Setelah ngobrol panjanngggg banget sama PL, akhirnya gw tau kalo dia ternyata belajar di Aussie melalui beasiswa LPDP. 

Sejak itu beasiswa LPDP terngiang-ngiang di otak gw karena beasiswa nya jauh lebih approachable (gak ada kuota) dan pilihan studinya lebih banyak dibanding beasiswa lainnya. Plus beasiswa nya buka 4 periode selama setahun. Azeik kan. 

Setelah mikir kebanyakan, ragu, takut, bingung, males, galau... bulatlah sudah tekad gw buat apply di periode ke-4 yang pendaftarannya tutup di pertengahan Oktober. Walaupun udah berbulan2 gw mikirin pilihan kampus, jurusan, draft buat essai dan so on... tapi menuangkan ide yang ada dari otak yang mumet itu tidak mudah. 

Akhirnya selama 2 minggu gw ngebut urusin semuanya. Hampir tiap malem gw begadang! Rasanya kayak ngurusin exams and assignments tahun lalu pas final year di uni -.- Albert mendiskripsikan kondisi gw seperti ini:


Tanggal 27 Oktober adalah tanggal pengumuman siapa aja yang lulus tahap pertama dan bisa lanjut ke seleksi wawancara. Gw gak berharap banyak buat lolos karena hal random yang bakalan gw ceritain (sabar ya, 1 paragraf lagi teman). Gw mikir... yauda lah dari awal pun gw hanya cobain iseng2 berhadiah, jadi kalo dapet ya syukur, kalo gak dapet ya udah (Gak sih, boong, Gw sedih pasti). 

DAN... akhirnya gw mendapatkan email dari LPDP bahwa gw LULUS tahap pertama! Gw gak nyangka bisa lolos karena beberapa hal berikut:

1. Perkara Materai
Di salah satu dokumen diharuskan buat tempel materai 6000 rupiah. Nah masalahnya gw kan di Perth yeee, jadi gw bingung juga mau cari materai dimana. Sebenernya bisa sih ke embassy Indo tapi kudu bayar $35. TIGA PULUH LIMA DOLAR, SAUDARA-SAUDARA!

Jadi gw coba alternatif lain dan untung si PL kenal salah satu awardee LPDP di Perth yang punya segepok materai 6000 dan gw bisa mendapatkannya secara gratis. Berhubung gw manusia yang mempunyai akhlak, ya gw beliin lah coklat ferrero sebagai tanda terima kasih karena si pemberi materai sudah menyelematkan dokumen gw di H-4 sebelum deadline. 

TAPI... cerita gw tidak sampai situ saja teman2. Setelah gw apply dan submit semua dokumen, gw baru sadar kalo gw belom tanda tangan di atas materai. Pas gw cek blog nya para awardee LPDP, semua pada bilang harus tanda tangan di atas materai. Jadi gw pikir... yauda tembak kepala gw aja deh pake choki-choki supaya kepala gw berlumuran coklat. 

2. Perkara Ijazah
Setelah gw siapin semua dokumen buat di unduh (kamu jangan unduh aku cembalangan - paham gak lelucon gw?), option submit pun sudah siap gw tekan. Tapi pas gw klik submit, ada masalah sama portal nya. Gw gak akan ceritain detail sebelum gw terbawa emosi, tapi ini yang paling penting... bagian riwayat pendidikan. 

Jadi so far gw isi nilai diploma sama bachelor yang dari AU. Tapi ternyata gw harus isi nilai SD SMP SMA juga. Jadi gw cobain dong masukin SD SMP SMA. Tapi nilainya gw ketik nol karena emang cuma untuk nge-test doang masih error apa gak buat submit. Dan ternyata tetep gak bisa di submit...

Gw pun memutuskan untuk menenangkan diri sejenak. 

1 jam kemudian pas gw coba dengan hal yang sama... akhirnya ke SUBMIT! Tapi... masalahnya SD SMP SMA gw nilainya NOL dongggggg. Oh my... Dan semua data yang udah di submit gak bisa di edit lagi. 

Serius dah... dari situ tingkat anxiety gw langsung meningkat. Gw rasanya pengen teriak tapi udah tengah malem, entar diomelin tetangga. Akhirnya gw hanya bisa menimbun kepala gw ke bantal dan meratapi nasib sampe jem 4 pagi. 

Kebesokannya gw memutuskan untuk mikir positif dan meyakinkan diri bahwa nilai lebih di aplikasi gw ada di essai dan kelengkapan dokumen lainnya. Plus setelah gw ceritain ke Albert dan temen gw, mereka ternyata ngakak dan gak ngatain gw tolol. Bagus deh. Itu membantu gw menertawakan situasi gw yang cukup malang. 

Sekarang gw tinggal nunggu detail tanggal interview yang bakal diadain di Jakarta. 

Sebenernya gw lagi ada di situasi yang cukup bikin deg2an. Intinya gw harus berpacu sama waktu. Karena satu dan lain hal, availability gw sekarang untuk bisa dateng interview adalah 50/50. Dan kalo gw gak bisa dateng ke interview yang udah ditentukan, gw dinyatakan gugur :(

Gw tau gw pasti sedih kalo cuma gagal karena gak bisa dateng interview. Tapi bakal lebih sedih lagi kalo gw gak bisa ambil pelajaran apapun dari pengalaman ini - baik itu lolos atau gagal. 

Dari pengalaman ini gw belajar bahwa... berhati-hati lah dengan asumsi. 

Kadang omongan yang paling jahat itu datang dari diri kita sendiri. Gw inget banget pas di tengah2 mumet nya gw urusin semua dokumen, ngelihat banyak halangan dan gak pede sama kemampuan gw, gw langsung berasumsi... 

"Yah mungkin ini bukan jalan nya buat apply sekarang. Apply periode berikutnya aja deh."

Tapi even gw apply di periode berikutnya, pasti bakalan ada aja alasan buat gw gak apply. Kemungkinan besar karena  asumsi gw yang biased sama insecurity yang udah ngejerit2 dalem hati.

After all, walaupun selama prosesnya gw pusing urusin surat keterangan kesehatan (yang sesuai peraturan harusnya diurus di RS pemerintah Indo), materai, dan plan detail rencana studi... entah gimana somehow ada aja solusi yang dateng tepat pada waktunya. It feels like it's meant to be. 

Gw akan menutup postingan ini dari quote yang gw liat di toilet temen gw (gw lagi eek loh pas baca itu, bijak banget):

"If you never try, the answer will always be no."

Gw bisa lemparin seribu alasan untuk worry sama things ahead. Tapi dari pengalaman ini gw belajar, kalo kita just focus on what we can do best in this stage, then things will turn out as it needs to be. 

Silahkan telisik apa hal yang selama ini cuma bisa kita mimpiin tapi gak pernah berani kita realisasiin.

Selamat malam dan selamat berpikir. 

"Be aware of yourself. Sometimes you tell something negative to yourself and you believe in it." - Zee Sultani.






Thursday, October 20, 2016

Perjalanan Serantang Brokoli dan Bakso

Hari ini gw memulai hari seperti berikut:
  • Ngambek-ngambek imut karena benci bangun pagi
  • Sarapan, boker, buka jendela, main hape
  • Cipika cipiki sama suami sebelum dia berangkat kerja, dan 
  • Siapin materi buat interview orang siang ini. 

Berhubung siang ini gw emang bakalan diluar rumah, jadi gw berinisiatif untuk bawa makanan dari rumah biar lebih sehat dan hemat. Tapi sebenernya gw males juga bawa makanan dari rumah karena harus buru-buru masak dan pasti makanannya udah dingin pas siang.

Setelah bolak-balik kayak setrikaan dan memetik kelopak bunga diluar taman sambil bertanya masak atau gak, masak atau gak, akhirnya gw mengikuti hati kecil ini untuk masak buat lunch.

Gw masaklah brokoli rebus, saos tomat ala-ala Itali dan bakso. Bukan bakso abang-abang yang dicampur sama daging tikus. Ini bakso versi bule yang kaya akan gizi.

Makanan pun siap dimasukin ke rantang, taro sendok dan tisu ke glad wrap dan semuanya siap dimasukin ke paper bag dengan branded keren. Kan gaya gitu pake paper bag dari merk Lui Pitong tapi dalemnya rantang makanan.

Akhirnya, pergilah gw dari rumah pagi ini buat ketemuan sama physio karena lower back gw yang super ngilu. Selesai dipijet dan di-strap kayak kardus fragile, gw pun mengisi waktu yang agak kosong sebelum interview orang dengan....... pergi ke op-shop dan ke bank buat urus credit card.

Setidaknya dengan ke bank gw lebih terlihat seperti wanita dewasa yang bertanggung jawab.

Pas gw sampe di depan op-shop, di depan toko nya ada orang homeless lagi minta duit. Berhubung gw emang ada spare $5 di dompet, gw taro lah $5 itu ke dia. Tapi pas gw liat kaleng rencengan nya, di kaleng itu cuma ada koin beberapa sen.

Setelah hampir setengah jam gw menghabiskan waktu di op-shop (dapet barang bagus loh!) dan ke bank, pikiran gw gak bisa lepas dari homeless yang tadi gw liat. Yang ada di otak gw cuma, "Tuh orang bakal makan siang pake apaan yah dengan duit segitu?" 

Dan tiba-tiba dalem hati gw ngomong, "Cing, kasih lunch lu ke dia."

Akhirnya pas keluar dari bank, gw nyamperin tuh orang lagi dan terjadilah conversation ini:

Gue: "Hey, have you got any lunch for today?"
Dia: "No."
Gue: "Well, I made my lunch this morning but you can have it if you want. I can find my lunch somewhere."

Dan demikianlah perjalanan serantang brokoli dan bakso yang gw masak tadi pagi.

Walaupun sekarang gw takut tuh homeless bule mencret karena gw taro banyak cabe di saos nya, tapi gw percaya makanan itu jatuh di orang yang tepat.

Cerita ini bukan soal sedekah. Dan terlebih lagi bukan soal kelihatan baik di depan orang lain.

Tapi ini soal percaya bahwa Tuhan bisa pake kita buat jadi berkat every single day di tengah hidup yang berasa kayak rutinitas doang.

Percaya bahwa hal yang menurut kita kecil dan gak penting ternyata bisa jadi berharga di mata orang lain.

Percaya bahwa Tuhan selalu bisa nunjukin eksistensi nya lewat hal yang random, yang kadang bikin kita bingung, gak percaya, merinding - tapi juga bahagia.

Dan sekonyol apapun... percaya lah terus sama suara Tuhan - even itu cuma untuk suruh kita bikin makanan buat bawa bekal.

Siang ini akhirnya gw ngebut mencari sushi cepat saji. Perut gw masih lapar. Pinggang gw masih sakit.

Tapi hari gw bener-bener "penuh" karena senyuman homeless itu.