MENDUNG SORE

Sunday, December 4, 2016

Pengantin Bergaun Ironis

Ini adalah cerita seorang pengantin. Pengantin yang harus fitting gaun nya satu minggu sebelum perkawinan. Pengantin yang wajib mengadakan resepsi pernikahan demi memenuhi ekspektasi pernikahan budaya ketimuran, budaya dimana dia berasal. 

Pengantin ini berbeda dengan pengantin lainnya. Badannya tidak tinggi semampai. Tapi otaknya pandai. Kulitnya tidak seputih salju. Tapi prestasi nya selalu maju.  

Sayangnya, orang-orang di sekitarnya tidak terlalu peduli dengan prestasi dan rencana hidup nya yang matang. 

Pengantin sebenarnya sangat berat hati untuk fitting baju. Terlebih lagi malas untuk balik ke negara asalnya. Karena dia tahu, keluarga dan teman-teman nya lebih mementingkan kecantikan fisik nya lebih dari apapun. 

Orang di sekitarnya tidak peduli tentang cerita perjuangan dan kekhawatiran nya selama menjadi perantau. Mereka lebih tertarik mendengar resep melangsingkan badan yang instan dan resep punya momongan yang cepat. 

Akhirnya siang ini pengantin menabahkan diri untuk fitting baju ditemani segelintir keluarga inti nya. 

Sapaan pertama dari asisten bridal untuk sang pengantin adalah, “Wah gendutan ya?”

Sang pengantin masih berusaha untuk sabar. Karena banyak yang bilang ke pengantin bahwa komentar itu NORMAL di Indonesia. 

Tidak lama, komentar di dalam dan luar ruang ganti semakin seru. Termasuk komentar, “Wah kulitnya iteman yah? Gimana nih mau jadi pengantin kok begini?

Pengantin mulai geram.

Saat ruang ganti dibuka, semua orang diluar cekikikan. Cekikikan karena gaun yang pengantin pakai tidak muat, tidak bisa dikancing.

Yang lebih sedih, anggota keluarga nya juga ikut cekikikan. Mungkin pemandangan yang dilihat mereka lucu, seperti melihat kue lepet yang diikat tali terlalu ketat.

Kesabaran pengantin pun habis dan akhirnya terucaplah kalimat, "Jadi saya mesti ngapain? Batal nikah gitu? Gak sopan yah dari tadi mulutnya."

Akhirnya mereka yang otak nya ada di pantat seperti udang pun diam. 

Pengantin itu tentu saja... saya. 

Banyak reaksi yang mungkin akan saya dapat dari tulisan ini atau respon saya yang mungkin dianggap berlebihan dan tidak sopan. 

Kita mungkin bisa berdebat seharian untuk membuktikan bahwa apa yang saya lakukan dan percaya itu benar. Tapi saya rasa itu tidak ada gunanya. 

Tujuan saya untuk menulis cerita ini bukan untuk menunjukkan betapa hebatnya saya bisa bentak orang. Tapi saya berharap wanita diluar sana bisa speak up untuk dirinya sendiri saat kalian cuma dihargai sebatas penampilan dan bukan otak atau kepribadian kalian. 

Kalau saya hanya dihargai lewat tubuh saya, apa bedanya saya dengan pelacur?

Dan jika kalian tidak bisa menerima teman, pacar, saudara atau anak kalian apa adanya, apa bedanya kalian dengan binatang?

Mungkin anjing saja tidak pernah berkomentar ke pemiliknya bahwa pemiliknya gendut, jelek, cacat atau lain sebagainya.

Tersinggung?

Ya, saya rasa itu wajar. Karena itu reaksi natural manusia yang sulit menelisik lebih dalam ke dirinya. 

Bahwa sebenarnya ada rasa muak saat mereka melihat diri mereka di depan kaca.

Sayangnya, beberapa orang memilih untuk tidak dewasa dan mengajak orang lain untuk bergabung dengan mereka. Mungkin manifestasi nya adalah mengomentari hidup orang agar hidup mereka jauh terlihat lebih "mendingan".  

Saya sudah menerima diri saya apa adanya. Tapi sayangnya tidak untuk beberapa orang di sekitar saya. 

Yang membuat saya menangis dan marah adalah kenapa hal ini dianggap menjadi normal? Kenapa yang dikomentari malah tidak berhak untuk marah dan speak up?

Banyak yang menyarankan saya bahwa saya tidak perlu mendengar omongan orang. 

Tapi menurut saya, diam dan pengecut itu sangat berbeda tipis. 

Betul-betul ada yang salah sama otak dan mental kita yang merasa berhak untuk mengomentari hidup orang semena-mena. 

Saya tidak khawatir postingan ini akhirnya bakal berujung ke siapa dan kemana. Saya lebih khawatir kalau saya harus menjadi penjilat yang berusaha membuat semua pembaca saya senang tapi tidak pernah berpikir kritis. 

Mungkin cuma ada satu alasan maaf yang bisa saya ucapkan. 

Maaf saya sudah menentang ekspektasi ideal pengantin pada umumnya. Saya seharusnya menutupi lemak di perut dengan tas besar bermerk LV. 

Tapi yang ada saya malah upload foto tubuh saya yang bergelambir dengan beha dan celana dalam. 

Alasan saya meng-upload foto ini karena saya merasa lebih seperti ditelanjangi dan dipermalukan saat saya memakai gaun pengantin saya. 

Ironis. 


Saturday, November 19, 2016

Komentar Tidak Etis

WARNING: 
Postingan berikut ini mengandung beberapa kalimat yang cukup sensitif dan vulgar. Jadi kalo kalian sulit untuk menelaah makna lebih dibalik postingan vulgar ini, mohon cari postingan yang lebih menghibur. 

Tanggal 29 November 2016... hari dimana gw akan menginjakkan kaki ke tanah air Indonesah untuk kesekian kali nya. Kali ini untuk urusan yang genting, yaitu untuk urusin resepsi pernikahan saya dan si doi pada tanggal 10 Desember. Kalo kalian gak dapet undangan nya, itu artinya kita gak deket-deket amat atau kita selama ini berteman tapi hanya basa basi. Jadi mohon dipahami.

Ngomongin soal resepsi nikah, pada umumnya pasti sang calon pengantin bakal merawat tubuh, ngurusin badan, putihin kulit, operasi muka, pergi ke Mars, dll. Sayangnya yang terjadi sama gw adalah kebalikannya. Gw menggendut, menghitam dan gak ada biaya buat operasi muka.

Bridesmaids gw juga menarik. Bentuk tubuh bridesmaids gw ada yang dari skala imut sampe bombastis. Pastinya beda banget sama tipikal bridesmaids imut macam girl band Korea yang sering kita lihat di Instagram. Jangan lupa foto nya dibubuhi dengan ratusan hashtags #girl #pretty #famous #rich #BFFinheavenandhell

Karena badan bridesmaids gw yang beragam, alhasil kita lumayan repot buat cari baju bridesmaids. Salah satu bridesmaids gw sempet meragukan role nya karena perkara badan nya - "biasa" nya bridesmaids kan badannya imut, "biasa" nya kan pengantin cari bridesmaids yang putih dan langsing biar bagus pas di foto. Dan banyak banget hal yang selama ini mungkin kita anggep normal dan rasanya "aneh" kalo gak diikutin.

Banyak lagi hal "BIASA" yang lainnya di luar dari perkara nikah: "Biasanya umur 20an udah married kan? Punya mobil kan? Punya anak kan?"  Dan... silahkan tambahin pertanyaan dan asumsi tolol lainnya sesuai selera anda.

Untuk semua orang yang udah muak sama sentimen berikut, tenang... anda tidak sendirian. Jujur komentar yang dianggap "gak penting" ini sering banget dilontarkan banyak orang kepo yang kehabisan topik pembicaraan.

Komentar macam ini pun sering banget bikin gw jadi males balik Indo. Karena masih banyak orang yang cuma ngelihat cewek cuma dari bentuk fisik sama berapa banyak keturunan yang bisa dia hasilkan.

Gw udah terlalu sering lihat nyokap-nyokap yang males keluar rumah pasca lahiran karena komentar yang sering dilontarin ke para ibu dari orang-orang yang gak ada otak nya, "Kamu kok gendut banget ya?"  Seakan-akan dengan kasih komentar itu bikin yang nanya jadi makin cakep.

Orang-orang yang gak ada otak ini mungkin lupa kalo sang ibu mengandung seonggok manusia dan bukan mengandung seekor kucing.

Menurut gw perkara komentar gak etis macam ini bukan hal yang kecil. Gak semua orang bisa sembarangan tanya dan komentar hal personal tentang seseorang seenak jidat. Kalo misalnya semua orang bisa ngomong semaunya, gw bisa aja dong kasih komentar...

"Tante mukanya keriputan. Jarang dikasih "jatah" ya sama suami? Biasa seminggu nge-seks berapa kali sih?"

Terlalu kurang ajar ya?

Iya memang.

Dan menurut gw komentar kaya gitu sama aja kayak orang yang komentarin badan ibu-ibu yang baru ngelahirin, komentarin badan bridesmaids yang gak "imut", komentarin badan pengantin kurang ini dan kurang itu, interogasi orang kenapa belom punya anak, dan ratusan komentar kurang ajar lainnya.

Gw gak tau bakal denger komentar macam apa nanti nya menjelang resepsi. Bisa jadi bagus, bisa juga yang aneh bin ajaib.

Yang pasti kalo ada orang yang melontarkan pertanyaan umum seperti: "Kapan punya anak? Loh gendutan ya? Kok iteman?"  Gw sudah menyiapkan respon yang tidak akan pernah terlupakan, sekaligus bikin orang yang nanya belajar buat menyeimbangkan kecepatan otak dan lidah sebelum berbicara.

Untuk menutupi postingan berikut, gw cuma berharap postingan ini bikin kita semua mikir sebelum nanya atau kasih komentar ke orang lain. Gw gak bilang gw "perfectly" jaga mulut gw dan berhati suci seperti malaikat. Iya, gw judge orang. Gw kadang suka komentar gak pake otak. Tapi gw selalu usaha untuk intropeksi dan do better next time.

Untuk para pembaca yang sedang atau sering dilontarkan komentar-komentar yang tidak etis, tolong pakai situasi ini sebagai kesempatan buat jadi lebih kreatif dan berguna - kreatif dalam merespon lewat humor dan ironi, sekaligus berguna juga buat jadi pembelajaran untuk orang yang nanya.

Yang lebih penting, pakai kesempatan ini buat belajar nerima diri kita apa adanya.

Harga dirimu tidak bergantung dari orang-orang yang sulit menyeimbangkan kecepatan otak dan lidah mereka sebelum berbicara. 

Terakhir, berikut foto di bawah ini sebagai hadiah buat orang yang berkali-kali mikir gw hamil padahal gw cuma gendutan:


Hamil si lemak sejak 2010. Puas?








Saturday, October 29, 2016

Hati-Hati dengan Asumsi

Sesuai dengan janji yang sudah gw haturkan lewat Path, malam ini gw akan menceritakan perjuangan gw buat apply beasiswa LPDP. Apa itu LPDP? Silahkan gunakan skill komunikasi anda untuk bertanya pada mbah Google.

Mari kita mulai. 

Gw gak pernah kebayang buat apply beasiswa. Karena menurut gw beasiswa tuh susah banget dan itu hanya untuk rakyat jelata yang tidak mampu bersekolah. Tapi akhirnya gw memutuskan untuk apply beasiswa untuk pertama kalinya. Berikut alasannya:

1. Tingkat kecerdasan dan kegigihan belajar sudah meningkat 
2. Sekarang gw termasuk golongan rakyat jelata yang tak mampu bersekolah :') 

Gw tau beasiswa ini for the first time pas lagi berkunjung ke Albany bareng suami. Letaknya di selatan dengan bujur lintang 175,31 derajat. Yah intinya jauh dah dari Perth. 

Weekend itu lagi ada food and wine festival. Berhubung di kota itu hiburannya cuma makan, jadi kita dateng lah ke festival itu. Mungkin bacot gw lumayan gede yah sampe2 pas kita lagi antri wine tiba2 ada orang yang nepok bahu gw trus ngomong, "Ehh.... orang indo juga yah?!" 

Disitu lah gw berkenalan sama perantau dari Indo yang memutuskan untuk belajar ecotourism di Albany. Sebut saja namanya Putri Laut (PL). Setelah ngobrol panjanngggg banget sama PL, akhirnya gw tau kalo dia ternyata belajar di Aussie melalui beasiswa LPDP. 

Sejak itu beasiswa LPDP terngiang-ngiang di otak gw karena beasiswa nya jauh lebih approachable (gak ada kuota) dan pilihan studinya lebih banyak dibanding beasiswa lainnya. Plus beasiswa nya buka 4 periode selama setahun. Azeik kan. 

Setelah mikir kebanyakan, ragu, takut, bingung, males, galau... bulatlah sudah tekad gw buat apply di periode ke-4 yang pendaftarannya tutup di pertengahan Oktober. Walaupun udah berbulan2 gw mikirin pilihan kampus, jurusan, draft buat essai dan so on... tapi menuangkan ide yang ada dari otak yang mumet itu tidak mudah. 

Akhirnya selama 2 minggu gw ngebut urusin semuanya. Hampir tiap malem gw begadang! Rasanya kayak ngurusin exams and assignments tahun lalu pas final year di uni -.- Albert mendiskripsikan kondisi gw seperti ini:


Tanggal 27 Oktober adalah tanggal pengumuman siapa aja yang lulus tahap pertama dan bisa lanjut ke seleksi wawancara. Gw gak berharap banyak buat lolos karena hal random yang bakalan gw ceritain (sabar ya, 1 paragraf lagi teman). Gw mikir... yauda lah dari awal pun gw hanya cobain iseng2 berhadiah, jadi kalo dapet ya syukur, kalo gak dapet ya udah (Gak sih, boong, Gw sedih pasti). 

DAN... akhirnya gw mendapatkan email dari LPDP bahwa gw LULUS tahap pertama! Gw gak nyangka bisa lolos karena beberapa hal berikut:

1. Perkara Materai
Di salah satu dokumen diharuskan buat tempel materai 6000 rupiah. Nah masalahnya gw kan di Perth yeee, jadi gw bingung juga mau cari materai dimana. Sebenernya bisa sih ke embassy Indo tapi kudu bayar $35. TIGA PULUH LIMA DOLAR, SAUDARA-SAUDARA!

Jadi gw coba alternatif lain dan untung si PL kenal salah satu awardee LPDP di Perth yang punya segepok materai 6000 dan gw bisa mendapatkannya secara gratis. Berhubung gw manusia yang mempunyai akhlak, ya gw beliin lah coklat ferrero sebagai tanda terima kasih karena si pemberi materai sudah menyelematkan dokumen gw di H-4 sebelum deadline. 

TAPI... cerita gw tidak sampai situ saja teman2. Setelah gw apply dan submit semua dokumen, gw baru sadar kalo gw belom tanda tangan di atas materai. Pas gw cek blog nya para awardee LPDP, semua pada bilang harus tanda tangan di atas materai. Jadi gw pikir... yauda tembak kepala gw aja deh pake choki-choki supaya kepala gw berlumuran coklat. 

2. Perkara Ijazah
Setelah gw siapin semua dokumen buat di unduh (kamu jangan unduh aku cembalangan - paham gak lelucon gw?), option submit pun sudah siap gw tekan. Tapi pas gw klik submit, ada masalah sama portal nya. Gw gak akan ceritain detail sebelum gw terbawa emosi, tapi ini yang paling penting... bagian riwayat pendidikan. 

Jadi so far gw isi nilai diploma sama bachelor yang dari AU. Tapi ternyata gw harus isi nilai SD SMP SMA juga. Jadi gw cobain dong masukin SD SMP SMA. Tapi nilainya gw ketik nol karena emang cuma untuk nge-test doang masih error apa gak buat submit. Dan ternyata tetep gak bisa di submit...

Gw pun memutuskan untuk menenangkan diri sejenak. 

1 jam kemudian pas gw coba dengan hal yang sama... akhirnya ke SUBMIT! Tapi... masalahnya SD SMP SMA gw nilainya NOL dongggggg. Oh my... Dan semua data yang udah di submit gak bisa di edit lagi. 

Serius dah... dari situ tingkat anxiety gw langsung meningkat. Gw rasanya pengen teriak tapi udah tengah malem, entar diomelin tetangga. Akhirnya gw hanya bisa menimbun kepala gw ke bantal dan meratapi nasib sampe jem 4 pagi. 

Kebesokannya gw memutuskan untuk mikir positif dan meyakinkan diri bahwa nilai lebih di aplikasi gw ada di essai dan kelengkapan dokumen lainnya. Plus setelah gw ceritain ke Albert dan temen gw, mereka ternyata ngakak dan gak ngatain gw tolol. Bagus deh. Itu membantu gw menertawakan situasi gw yang cukup malang. 

Sekarang gw tinggal nunggu detail tanggal interview yang bakal diadain di Jakarta. 

Sebenernya gw lagi ada di situasi yang cukup bikin deg2an. Intinya gw harus berpacu sama waktu. Karena satu dan lain hal, availability gw sekarang untuk bisa dateng interview adalah 50/50. Dan kalo gw gak bisa dateng ke interview yang udah ditentukan, gw dinyatakan gugur :(

Gw tau gw pasti sedih kalo cuma gagal karena gak bisa dateng interview. Tapi bakal lebih sedih lagi kalo gw gak bisa ambil pelajaran apapun dari pengalaman ini - baik itu lolos atau gagal. 

Dari pengalaman ini gw belajar bahwa... berhati-hati lah dengan asumsi. 

Kadang omongan yang paling jahat itu datang dari diri kita sendiri. Gw inget banget pas di tengah2 mumet nya gw urusin semua dokumen, ngelihat banyak halangan dan gak pede sama kemampuan gw, gw langsung berasumsi... 

"Yah mungkin ini bukan jalan nya buat apply sekarang. Apply periode berikutnya aja deh."

Tapi even gw apply di periode berikutnya, pasti bakalan ada aja alasan buat gw gak apply. Kemungkinan besar karena  asumsi gw yang biased sama insecurity yang udah ngejerit2 dalem hati.

After all, walaupun selama prosesnya gw pusing urusin surat keterangan kesehatan (yang sesuai peraturan harusnya diurus di RS pemerintah Indo), materai, dan plan detail rencana studi... entah gimana somehow ada aja solusi yang dateng tepat pada waktunya. It feels like it's meant to be. 

Gw akan menutup postingan ini dari quote yang gw liat di toilet temen gw (gw lagi eek loh pas baca itu, bijak banget):

"If you never try, the answer will always be no."

Gw bisa lemparin seribu alasan untuk worry sama things ahead. Tapi dari pengalaman ini gw belajar, kalo kita just focus on what we can do best in this stage, then things will turn out as it needs to be. 

Silahkan telisik apa hal yang selama ini cuma bisa kita mimpiin tapi gak pernah berani kita realisasiin.

Selamat malam dan selamat berpikir. 

"Be aware of yourself. Sometimes you tell something negative to yourself and you believe in it." - Zee Sultani.






Thursday, October 20, 2016

Perjalanan Serantang Brokoli dan Bakso

Hari ini gw memulai hari seperti berikut:
  • Ngambek-ngambek imut karena benci bangun pagi
  • Sarapan, boker, buka jendela, main hape
  • Cipika cipiki sama suami sebelum dia berangkat kerja, dan 
  • Siapin materi buat interview orang siang ini. 

Berhubung siang ini gw emang bakalan diluar rumah, jadi gw berinisiatif untuk bawa makanan dari rumah biar lebih sehat dan hemat. Tapi sebenernya gw males juga bawa makanan dari rumah karena harus buru-buru masak dan pasti makanannya udah dingin pas siang.

Setelah bolak-balik kayak setrikaan dan memetik kelopak bunga diluar taman sambil bertanya masak atau gak, masak atau gak, akhirnya gw mengikuti hati kecil ini untuk masak buat lunch.

Gw masaklah brokoli rebus, saos tomat ala-ala Itali dan bakso. Bukan bakso abang-abang yang dicampur sama daging tikus. Ini bakso versi bule yang kaya akan gizi.

Makanan pun siap dimasukin ke rantang, taro sendok dan tisu ke glad wrap dan semuanya siap dimasukin ke paper bag dengan branded keren. Kan gaya gitu pake paper bag dari merk Lui Pitong tapi dalemnya rantang makanan.

Akhirnya, pergilah gw dari rumah pagi ini buat ketemuan sama physio karena lower back gw yang super ngilu. Selesai dipijet dan di-strap kayak kardus fragile, gw pun mengisi waktu yang agak kosong sebelum interview orang dengan....... pergi ke op-shop dan ke bank buat urus credit card.

Setidaknya dengan ke bank gw lebih terlihat seperti wanita dewasa yang bertanggung jawab.

Pas gw sampe di depan op-shop, di depan toko nya ada orang homeless lagi minta duit. Berhubung gw emang ada spare $5 di dompet, gw taro lah $5 itu ke dia. Tapi pas gw liat kaleng rencengan nya, di kaleng itu cuma ada koin beberapa sen.

Setelah hampir setengah jam gw menghabiskan waktu di op-shop (dapet barang bagus loh!) dan ke bank, pikiran gw gak bisa lepas dari homeless yang tadi gw liat. Yang ada di otak gw cuma, "Tuh orang bakal makan siang pake apaan yah dengan duit segitu?" 

Dan tiba-tiba dalem hati gw ngomong, "Cing, kasih lunch lu ke dia."

Akhirnya pas keluar dari bank, gw nyamperin tuh orang lagi dan terjadilah conversation ini:

Gue: "Hey, have you got any lunch for today?"
Dia: "No."
Gue: "Well, I made my lunch this morning but you can have it if you want. I can find my lunch somewhere."

Dan demikianlah perjalanan serantang brokoli dan bakso yang gw masak tadi pagi.

Walaupun sekarang gw takut tuh homeless bule mencret karena gw taro banyak cabe di saos nya, tapi gw percaya makanan itu jatuh di orang yang tepat.

Cerita ini bukan soal sedekah. Dan terlebih lagi bukan soal kelihatan baik di depan orang lain.

Tapi ini soal percaya bahwa Tuhan bisa pake kita buat jadi berkat every single day di tengah hidup yang berasa kayak rutinitas doang.

Percaya bahwa hal yang menurut kita kecil dan gak penting ternyata bisa jadi berharga di mata orang lain.

Percaya bahwa Tuhan selalu bisa nunjukin eksistensi nya lewat hal yang random, yang kadang bikin kita bingung, gak percaya, merinding - tapi juga bahagia.

Dan sekonyol apapun... percaya lah terus sama suara Tuhan - even itu cuma untuk suruh kita bikin makanan buat bawa bekal.

Siang ini akhirnya gw ngebut mencari sushi cepat saji. Perut gw masih lapar. Pinggang gw masih sakit.

Tapi hari gw bener-bener "penuh" karena senyuman homeless itu.

Thursday, October 13, 2016

Penari Ballet yang Mencret (dan lain-lain)

AKHIRNYA... gw menepati janji buat nge-blog lagi. Maaf para sahabat, gw tenggelam dalam kesibukan selama 2 minggu ini dan finally bisa nge-blog tanpa berasa guilty hehe.

Berhubung request terbanyak dari temen-temen di Path tentang topik blog yang berikutnya adalah tentang penari ballet yang mencret (baca: gue), jadi marilah kita mulai cerita ini.

PLEASE baca ini sambil makan, biar sambil nikmat. Coba deh makan apa gitu yang tekstur nya lembek dan berwarna coklat, jadi biar makin menjiwai.

So... kalo kalian melihat kehidupan gw di Facebook beberapa tahun belakangan ini, hidup gw dipenuhi dengan menari. Dan to be honest, gw juga gak nyangka dari nari yang dimulai awalnya karena gw bosen di Perth bisa menghantarkan gw menang lomba, juara 1 dan dalam dua kali pula! Finally, untuk pertama kalinya di dalam hidup gw, gw gak menang perlombaan 17 Agustusan doang :')

Tapi kurang komplit rasanya kalo belom mendengar cerita hina di balik euphoria perjalanan nari gw. Gw percaya nilai jual seseorang itu bukan ceritain yang sukses2 aja, tapi ceritain yang hina juga. So, malam ini gw akan menceritakan tentang perjalanan nari gw dari kecil sampei sekarang.

MASA TK

Gw pertama kali nari pas umur 4 tahun karena waktu itu harus ambil ekstrakulikuler. Alasan gw ambil nari karena emang dari dulu gw suka dengerin lagu. Tapi lagu nya yang hip hop yow yow whatsup gitu. Maklum kan masih jaman MTV sama Channel V.

Pas gw masuk kelasnya pertama kali, di bayangan gw bakal tarian heboh yang hip hop gitu. Ehhh gak taunya malah tarian selow macam ballet dong. Jauh banget gak sih? Itu perbandingan jauhnya kayak bilang si Raisa, penyanyi bersuara malaikat, sebenernya saudara kembar gw.

Akhirnya yauda lah, gw paksain untuk coba. Nah ini info yang mesti lu denger lebih lagi. Jadi entah kenapa nih ya, pencernaan gw tuh sensitif kalo denger lagu selow. Tiap denger lagu selow pasti perut gw langsung pengen eek gitu. BENERAN gw gak ngerti kenapa dan kadang itu masih terjadi sampe sekarang.

Dan inilah yang terjadi.

Hari itu gw emang lagi agak diare. Pencernaan gw pas masih kecil emang agak hina. Kata nyokap sih karena pas umur 3, mbak gw pakein telor rebus gw sama micin, bukan sama garem. Selain mempengaruhi kecerdasan otak, ternyata micin juga mempengaruhi pencernaan gw.

Pas lagi kelas nari, kita kayak diajarin semacam gerakan ballet gitu deh. NAH udah deh, udah lagunya selow, gerakannya lamban, perut gw makin berulah DAN keluarlah cairan berwarna coklat kekuningan itu dari celana gw. Akhirnya si mbak Ai (duta cebokin anak2 di sekolah gw) langsung gendong gw keluar terus gw ditaro di tong sampah.

Gak deh, becanda. Iya dia keluarin gw dari kelas terus cebokin gw. Akhirnya sejak itu gw gak mau nari lagi deh karena semua orang tau gw mencret.

MASA SD

Pas SD, gw suka ikutan drama sekolah gitu. Terus waktu kelas 4 SD gw dipilih buat jadi salah satu malaikat yang dateng ke Yusuf dalam rangka menenangkan Yusuf yang kaget Maria tekdung diluar nikah. Gw seneng banget sama peran itu karena akhirnya gw tidak lagi memainkan peran antagonis yang suka merebut jajanan teman di kantin sekolah.

Yang gw gak seneng sih satu... Pas tau bajunya mesti pake baju ballet. Gila... kalo lu pernah liat gw SD, gw tuh gede nya kayak apa tau. Kelas 4 SD aja berat gw 50 kiloan, terus disuruh pake baju ballet???

Akhirnya yauda lah mau gak mau demi profesionalisme, gw pake juga tuh baju ballet. Dan gw beneran kayak kue lepet. Lemak gw udah menjerit, "Bebaskan aku!" Dan itu terakhir kali nya gw nari pas SD.

MASA SMP

Ini masa2 alay nih. Sobat2 SMP gw pasti tau kenajisan apa yang kita perbuat pas SMP. Yang pasti kita pernah koreograf tarian buat perpisahan SMP gitu, nariin lagunya Audi yang liriknya ada sahabat2 nya dah.

Terus pas SMP 3, gw pernah hampir tampil bersama beberapa sobat lainnya buat perform di Agustusan komplek gw dong. Nari modern dance gitu. Anjir kebayang gak sih lu bajunya minim pake tank top gitu terus diliatin abang2? Akhirnya gw menyerah di tengah latihan. Plus pas gw cobain latihan beberapa minggu, gw udah kayak ulet keket. Jelek banget dah.

MASA SMA

Pas SMA, gw mencoba tarian sanggar di gereja. Jadi itu gabung dah... kadang ada tamborin, nari selow, and modern dance. Kali ini untung gw gak mencret tiap kebagian nari selow. Kayaknya perjalanan nari gw selama remaja yang paling fun dan mendingan yah yang ini deh.

Gak gitu banyak yang aneh, kecuali pas gw nari tamborin. Gw cobain nari tamborin terus cara gw mukul tamborin kayaknya kurang elegan. Jadi suaranya malah kayak kaleng rombeng.

MASA TIDAK REMAJA LAGI

Nah ini pas gw nari di Perth sejak 3,5 taun lalu. Intinya gw suka Swing dancing karena history di balik tarian itu, lagu nya, and punya kesempatan untuk dress up pake barang2 vintage. Kayaknya sejak nari, skill make up, hair do dan vintage style gw langsung meningkat pesat.

Tapi emang yah, kayaknya dewi fortuna tidak memihak kepada gw. Ada kejadian hina pas lagi gw compete untuk kedua kali nya di April ini. Jadi hari itu gw bawa baju ganti karena itu tempat nari kayak ruangan sauna. Akhrinya gw pake dress gitu tapi pendek. Bodohnya gw lupa dong bawa shorts daleman. DAN... terjadi lah sudah.

Pas gw dipanggil final, lagunya tuh cepet banget and gw tau rok gw udah kemana2 karena gw berasa kok area pantat gw kayaknya tiba2 sejuk berangin gitu yaa... hmm, mencurigakan. Tapi yauda lah, udah di tengah panggung, gak mungkin juga gw ijin juri mau benerin baju.

Singkat cerita, pas gw di announce menang, temen2 gw at the end bilang congrats and ada yang laporan, "Hey you 'flash' us when you danced! I can see your bum." HAHA. Abis itu gw ngakak, terus gw bilang iya sebenernya gw udah berasa sih. Cuma mau gimana,.. wanita sekarang harus bermental baja.

Di moment seperti ini gw mau berterima kasih kepada ibunda tercinta, mama toha. Karena dia yang selalu ngomelin gw kalo kolor gw jelek2. Aduh girls tau kan betapa enaknya pake barang yang udah belel and robek gitu? Kayak pacaran sama cowok tukang selingkuh tapi gak tega putusinnya (mengarang bebas). Nah itu yang gw rasakan juga sama kolor2 gw. Rasanya pake kolor belel tuh gak mengekang kebebasan gw dalam beraktivitas.

Nyokap gw kayak tukang inspeksi kolor. Seriusan nih yee tiap gw libur ke Indo and udah bersiap buat balik lagi ke Perth, koper gw digeledah ama nyokap and kolor gw diliatin satu2. Kalo jelek langsung dibuang terus besokannya gw diajak beli kolor baru. Alasan nyokap tiap kali gw tanya kenapa gw harus punya kolor bagus:

"Kan malu kalo kamu lagi jemur baju di Aussie terus tetangga sama temen serumah kamu liat kolor kamu jelek."

Ya gw gak malu sih. Atau apa sebenernya gw harus malu? Bagaimana pendapat mu, teman? Karena prinsip hidup gw, "Kolor ku bukan cerminan dari kepribadianku." SIPPP... salam super.

SO, pelajaran yang gw dapat dari semua cerita ini adalah:

1. DENGAR lah kata ibu mu mengenai kolor dan hal2 lainnya. Dia maha tahu seperti YME.
2. Semua kejadian yang kelihatannya memalukan itu bisa jadi keceriaan, tergantung respon kita kayak gimana.
3. Kalo susah BAB, coba denger lagu selow. Siapa tau makin mulus pencernaannya.

SEKIAN!

Thursday, July 28, 2016

Gigi Wiro Sableng

Malam ini gw akan mendedikasikan jam tidur gw buat ngejelasin kejadian nyata yang pernah terjadi di masa belia gw. Jujur aja gw udah lama pengen ceritain ini tapi gw bingung gimana jelasinnya dalam kata-kata. Namun berhubung para sobat gw yang di Path udah request topik ini, gw akan menceritakan tragedi ini dengan sejelas-jelasnya.

Semoga kalian bisa paham postingan berikut ini.

Untuk teman-teman yang kurang mengenal gw, hidup gw entah kenapa sering dikelilingi hal yang random, abstrak dan agak liar. Kadang gw agak iba ngeliat orang tua gw yang mungkin berharap anaknya anggun seperti putri Huan Zhu.


CI LUK BA :3

Kejadian itu terjadi di siang hari, 30 menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Pada saat itu gw lagi ada kelas kosong dan gw memutuskan untuk nongkrong di depan kelas macam "cabe-cabean". Berikut nama pelaku dan saksi mata yang ada di tempat kejadian:

1. Pelaku: teman baik - Awe (nama gak perlu disensor lagi, pemeran utama)
2. Objek ketawaan: teman sekelas - sebut saja namanya Bakmi 
3. Pendamping: mantan - sebut saja namanya Boy 

Karena hari itu lagi kelas kosong, si Boy yang rumahnya deket sama sekolahan gw suruh dateng nyamperin gw yang lagi ada kelas kosong. Well, udah mau pulang sekolah juga jadi gw pikir biar kita bisa hengot abis sekolah. Si Boy yang masih nganggur karena nunggu semester kuliah mulai akhirnya nyamperin gw ke sekolah. 

Karena gw gak mau keliatan bertindak senonoh ngobrol berduaan doang, akhirnya gw ajak lah si Awe dan Bakmi buat gabung nemenin gw pacaran sambil ketawa-ketawa centil. Pas hari itu si Bakmi kena hukum sama salah satu guru tercinta kita di SMA gara-gara dia lupa bawa alkitab buat kebaktian di sekolah.

Karena sekolah gw agak militer, kita pasti dihukum kalo gak bawa alkitab pas kebaktian. Bakmi yang ketakutan ini pun berbuat culas. Gw lupa deh dia ngapain tapi intinya dia pura-pura bawa tas alkitab biar dari luar keliatan kayak bawa alkitab. 

Singkat cerita, si Bakmi ketawaan boong and kayaknya disuruh nyalin salah satu kitab (kayaknya Kejadian) yang bertotal 52 pasal. SADIS. Gw rasa Bakmi sempet kepikiran pengen jadi pendeta gara-gara nyalin tuh pasal. 

Balik ke tempat kejadian. 

Si Boy akhirnya dateng nyamperin gw di depan kelas. Setelah gw beri pukul-pukul manja, akhirnya gw cerita ke Boy tentang tragedi si Bakmi dan alkitab. Berhubung gw dan Awe bukan teman yang supportive, kita lebih milih ngetawain Bakmi and ngata-ngatain Bakmi bodoh karena ketawan boong. HAHAH anjir jahat. Sorry, Bakmi. 

Pas gw sama Awe ngakak, entah kenapa kita ketawa LEBAY banget. Padahal setelah gw pikir-pikir itu gak lucu-lucu amat dah. Pas kita ngakak, posisi kita spertinya agak aneh. Yang gw inget posisi kepala gw lagi cekikikan sambil nunduk and Awe entah kenapa ketawa di atas kepala gw. Kebayang gak?

NAH yang masih gw gak ngerti, ngapain juga Awe ketawa di atas kepala gw? Apakah dia ingin seperti malaikat yang ingin menaungi kepala gw? I don't know. Tapi intinya, gw ngangkat kepala gw dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya dan tiba-tiba... BANGGGG!

Serius gw pikir pas gw ketawa, atap sekolah gw runtuh apa gempa bumi gitu. Karena itu suara BANGGGG berasa banget di kepala gw sampe ngedengung. Gw langsung pegangin kepala gw karena kepala gw langsung PUSING banget. Dan berikut kurang lebih dialog yang terjadi di antara kita semua:

Gue: "Duh, itu gw ngebentur apaan??? Kepala gw pusing banget."
Bakmi:  "Gila, Cing! Tadi kepala lu ngebentur mulut si Awe!"
Gue: "Hah? Kok bisa? Anjrit. We, lu gak kenapa-kenapa mulut nya?"
Awe: "Ngongagngoga hahuhaha gong gong meong." (translate: gw gak bisa ngomong)
Bakmi:  "We, coba buka mulut lu!"

DAN dari gusi si Awe keluar darah lumayan banyak. Karena kita semua kumpulan manusia hina, kita malah ketawain Awe.

Gue: "Gila, We! Gw jadi tadi nabrak gigi lu! Pantes kepala gw pusing banget!"
Awe: (sambil ngangguk) "Ngingi hua huha nga hit" (translate: Gigi gw juga sakit)

Nah untung si Boy otaknya masih jalan. 

Boy:  "Cing, itu gigi nya si Awe ampe berdarah gitu. Mending lu coba cek kepala lu juga."
Gue:"Yah gak mungkin kenapa-napa lah. Cuma kebentur doang gak mungkin kepala gw berdarah." (sambil megangin kepala dan jawab dengan pede) 
Boy: "Hmmm... mending coba cek sih, Cing."

Karena gw wanita yang patuh dan soleha akhirnya gw turuti nasihat bijak si Boy dan ternyata... telapak tangan gw udah penuh sama DARAH. Gw masih inget betapa shock nya gw and gw langsung ngejerit histeris ke Boy, "GILAAAA KEPALA GW BERDARAH!"

TETTTTTT........

Bel pun berbunyi dan DRAMA dimulai. Satu kelas gw yang baru keluar langsung diperhadapkan sama pemandangan: kepala gw dan gigi awe berdarah. Semua gak bisa ngerti apa yang terjadi dan kita gak sempet ngejelasin lagi kronologi nya. 

Bakmi sama Boy cuma sempet ngomong seadanya, "Kepala si Acing nabrak giginya Awe." 

Dan seinget gw mereka jawabin itu sepanjang perjalanan gw dari kelas ke UKS. Sangat memalukan. Gw udah gak sempet liat ekspresi temen-temen gw pas denger jawaban itu, tapi gw bisa denger suara mereka. Either mereka ngomong, "HA?" (cengo) atau "HAHAHHA KOK BISA?!" (ngakak). 

Sampai lah gw di UKS dan diurus sama ibu Tata Usaha yang bikin gw makin panik. Masa pas dia ngeliat luka gw, dia bilang kepala gw harus dijahit and dibotakin. Eek. Akhirnya gw makin panik dan nangis histeris. 

Jujur aja gw lupa siapa yang boncengin gw pulang hari itu. Tapi gw inget pas gw sampe rumah, mama gw udah cengo ngeliatin gw yang lagi nangis sambil liat kepala gw di plester. Nyokap gw nanya kenape dan gw cuma bisa jawab, "Kepala Acing kebentur gigi nya Awe pas ketawa."

Dan memang ya ibu Bangka itu hatinya dari baja. Bukannya gw disambut dengan penuh kasih sayang, gw malah diketawain nyokap terus malah diceramahin, "Makanya lu tuh di sekolah ya belajar, jangan maen mulu." Nyokap pun langsung sibuk cerita tentang insiden gw ke bokap sambil ngakak. 

Malemnya gw ke dokter buat periksa kepala gw dan akhirnya dokter pun ngetawain gw juga pas tau kepala gw bocor gara-gara kena gigi temen gw. Gw inget kepala gw pusing dan sakit banget sampe berjam-jam. Gw rasa itu lebih karena malu dan bukan karena gigi kapak si Awe macam kapak nya Wiro Sableng. 


CIAAAAT

Singkat cerita akhirnya rambut gw digunting dikit, kepala gw yang luka dikasih hansaplast dan gw dicekokin antibiotik - just in case gigi nya si Awe penuh kuman dan bakteri yang bisa mempengaruhi fungsi otak gw. Kalo mau lebih jijik lagi, bentuk luka gw persis kayak gigi Awe - semacam bentuk roti yang abis digigit. KZL KAN. 

Pas gw balik sekolah dua hari berikutnya, gw dan Awe udah kayak artis karena semua orang masih gak ngerti sama reka kejadian nya dan gw sama Awe harus press conference berkali-kali di kantin buat jelasin bahwa ini semua hanya salah paham. 

Selain menjadi artis, gw juga berasa seperti gembel. Gw gak bisa keramas hampir seminggu karena harus nunggu luka gw kering dan rambut gw udah berminyak banget. Gw rasa dari rambut gw itu bisa supply minyak goreng ke si Kesi (mbak tukang gorengan) buat ngegoreng tempe ama bakwan di kantin. 

Yah begitulah kisah gw di SMA. 

Jujur itu insiden paling absurd, nyeremin dan unik. Itu pertama (dan semoga terakhir) kalinya kepala gw bocor... karena kena gigi. Gak elegan banget.

Gw dan Awe masih tetap berteman baik dan insiden itu menjadi simbol kuat persahabatan kita untuk sekarang dan seterusnya. Si Bakmi sekarang sudah menjadi pendeta dan si Boy sudah menjadi dokter bedah otak di Kanada. 

Ini cerita absurd ku, kalau kamu apa?







Tuesday, July 19, 2016

Si Bandit Pokemon

Halo, apa kabar semuanya?

Kabar gw sekarang kurang baik. Di Perth dingin banget dan gw sakit-sakitan macam wanita Korea. Hari ini juga gw kentut2 hampir non-stop karena perut gw ber-gas banget. Maklum... penyakit "bulanan" wanita. Karena itu juga gw belakangan ini mood swing banget. Satu menit rasanya pengen gampar orang dan menit berikutnya gw mau nangis cuma karena liat video orang lagi masak.

Untuk bikin mood gw better gw akan ngeblog tentang Pokemon. Man, Pokemon lagi happening banget gak sihhhh... Well, sayangnya gw gak ikutan main. Tapi gw mau cerita tentang masa muda gw saat main Pokemon 16 tahun lalu. YASH. Aku jadi berasa tua.

Cerita Pokemon yang satu ini agak bandit. Sebelumnya, gw mau minta maaf dulu sama Encang, tukang jualan jajanan yang gw kelabui di masa SD gue. Nanti kalian akan mengerti sepenuhnya kenapa permintaan maaf ini wajib dihaturkan.

16 TAHUN LALU

Di sekolah gw dulu, kita punya tukang jajanan tenar namanya Encang. Well, kayaknya itu bukan nama aslinya sih tapi mungkin itu nama artis dia yang lebih terdengar catchy dibanding sama tukang jajanan sekolah lainnya.

Jajanan Encang selalu enakkkkk dengan beraneka ragam jajanan penuh MSG yang mampu menurunkan daya pikir anak-anak Indonesia. Warung si Encang selalu paling laris dan semua anak ngerubutin warung nya macam anak remaja nonton boyband Korea.

Sayangnya gw bukan lah anak yang bisa jajan semau nya karena waktu itu keluarga gw hidup susah. Kita cuma mampu makan nasi pake keripik bawang dan kecap tiap hari. Jadi gak heran gw jarang dikasih uang jajan.

Tapi satu harapan yang membara di hati anak miskin ini adalah... nyomotin jajanan temen yang beli ANAK MAS RASA KEJU di sekolah. Oh man, itu ganja. Serius nagih banget! Untuk kalian yang belom hidup di jaman itu atau jajanan nya gak sekampungan gue, inilah wujud Anak Mas Rasa Keju...


CUTE YAH

Singkat cerita, semua anak pada jaman itu juga lagi tergila-gila main Pokemon. Karena teknologi gak secanggih sekarang, dulu kita mainnya pake kartu atau iseng beli duit mainan gambar Pokemon biar kayaknya keliatan ngikutin tren gituh. Akhirnya iseng lah gw beli duit-duitan Pokemon karena Pikachu nya lucu. 

Setelah gw mengoleksi cukup banyak uang mainan Pokemon, gw merasa lebih kaya walaupun gw tau tuh duit juga gak bisa dipake buat beli apa-apa. TAPI... saya salah. Ternyata duit mainan itu bisa dipakai untuk beli sesuatu...

Ide ini muncul dari otak koko gw sama temen nya yang agak "bocor". Waktu itu koko gw tau kalo gw koleksi banyak duit Pokemon, terus dia bilang... 

"Cing, lu mau coba sesuatu gak sama duit Pokemon lu?"

Lalu gw pun yang lugu penasaran dan mulai tanya detail tentang ide cemerlang dari engko gw. Koko gw bilang, "Lu coba deh jajan di Encang tapi bayarnya pake duit Pokemon." BAM! IDE BAGUS... 

Dalem hati gw mikir ini kesempatan langka gw buat jajan Anak Mas Rasa Keju dengan GRATIS. Tapi hati kecil gw ragu karena gw tau itu sama aja kayak nyolong. 

Namun karena "bermain api" memang lebih menantang, akhirnya gw tanya sama engko gw cara detail buat beli jajanan si Encang pake duit Pokemon. 

Kebesokan nya pas gw bangun pagi, gw udah bertekad buat mewujudkan impian gw... ngunyah Anak Mas Rasa Keju di saat bel istirahat berbunyi. Hari itu hati gw gundah gulana. Tapi apapun yang terjadi, gw tidak boleh menyerah. 

Gw pun berangkat sekolah dan tidak lupa membawa segepok uang Pokemon di dompet imut. Pas bel istirahat berbunyi, gw langsung menjalankan rencana gw. Koko gw bilang waktu itu, bayar ke Encang pake duit Pokemon pas dia lagi dikerubutin banyak anak-anak yang mau beli jajanan juga. Jadi pas dia lagi sibuk ngelayanin pelanggan, gw langsung cepet-cepet "bayar" jajanan impian gw pake duit Pokemon yang udah dilipet-lipet dan terlihat seperti uang rupiah beneran. 

DAN AKHIRNYA 

Rencana berjalan sukses. Gw lari cepet banget setelah "bayar" jajanan impian pake uang Pokemon dengan ketek yang basah karena grogi takut digebuk massa. Dan terjadilah sudah... tindakan kriminal pertama yang gw lakukan saat gw masih kelas 2 SD. 

Sekian ceritanya. Maaf, Encang. Aku cuma ingin mengejar jajanan impian. Aku khilaf. 

Ini tindak kriminal ku, kalo kamu apa?